Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 April 2012


KEBANGKITAN YESUS KRISTUS
(Lukas 24: 1-12)

Banyak orang tidak percaya akan kebangkitan Yesus Kristus. Kebangkitan itu sesuatu yang tidak masuk akal atau tidak masuk logika manusia. Maka penulis Kitab Injil Matius, Markus, Lukas dan Yohanes sama-sama menekankan bahwa Kebangkitan Yesus Kristus adalah sesuatu yang sulit dipercaya oleh orang-orang dekat Yesus Kristus, seperti kaum perempuan dan para murid.

Tiap kali  membaca kebangkitan Yesus Kristus yang tertulis dalam Kitab Lukas 24: 1-12; Markus 16: 1-8; Matius 28: 1-10; Yohanes 20: 1-18, bahwa peristiwa kebangkitan Yesus Kristus sebagai tanda mujizat Allah. Artinya, walaupun kebangkitan Yesus Kristus itu tidak masuk akal manusia, tetapi hal itu benar-benar terjadi. Peristiwa kebangkitan itu memiliki fakta sejarah:

Pertama: Saksi Pertama. Peristiwa kebangkitan Yesus Kristus memiliki saksi, yaitu kaum perempuan yang bernama Maria dari Magdala, Yohana, Maria ibu Yakobus (menurut Injil Lukas); Maria Magdalena dan Maria yang lain (menurut Injil Matius); Maria Magdalena, Maria Ibu Yakobus; dan Salome (Menurut Injil Markus); Maria Magdalena (menurut Injil Yohanes). Para saksi ini bermaksud untuk merempahi mayat Yesus dengan wewangian sebagai bukti cinta kasih mereka kepada Yesus. Namun maksud mereka itu tidak terlaksana karena kubur Yesus telah kosong.

Kedua: Batu Besar Penutup Kubur Yesus Kritus telah terguling. Ini juga menunjukkan fakta sejarah akan kebenaran kebangkitan Yesus. Mengapa batu besar itu juga diberitakan oleh penulis Injil? Karena batu besar itu tidak mungkin digulingkan oleh satu atau dua orang, apalagi mereka kaum perempuan.

Ketiga: Ketakutan yang mencekam. Kaum perempuan yang menyaksikan kubur Yesus yang telah kosong mengalami ketakutan yang luar biasa. Hal ini dapat dipahami karena peristiwa demikian belum pernah mereka saksikan.

Keempat: Saksi kedua. Karena rasa takut yang meliputi kaum perempuan maka peristiwa kebangkitan Yesus itu hanya diceritakan kepada murid-murid Yesus. Hal ini juga dapat dipahami, jika peristiwa kebangkitan itu diceritakan kepada orang banyak akan dapat menimbulkan keributan atau huru hara yang memungkinkan kaum perempuan itu dituduh mencuri mayat Yesus dan  untuk mengurangi tekanan dari orang banyak antara lain pemerintah Romawi dan para imam besar Yahudi kepada pengikut Yesus.  Supaya pemberitaan kaum perempuan itu tidaklah mengada-ada, dengan segera mereka memberitahukan kepada para murid. Sebab para murid Yesus sudah lebih lebih mengenal Yesus dan lebih mengetahui akan peristiwa kematian Yesus Kristus. Pemberitaan kaum perempuan bagi sebagian besar dari para murid adalah berita omong kosong atau mengada-ada. Sebagian kecil saja dari para murid yang meresponi pemberitaan itu dengan positif.

Kelima: Kain Kafan Yesus. Salah satu dari para murid yang pergi melihat kubur Yesus yang telah kosong itu adalah Petrus. Di dalam kubur itu, Petrus menemukan kain kafan yang dipakaikan kepada mayat Yesus. Barang bukti ini menunjukkan bahwa cerita kaum perempuan itu sunguh-sungguh benar terjadi.

Dengan fakta sejarah ini menunjukkan bahwa kebangkitan Yesus Kristus adalah benar-benar terjadi. Bagaimana mau memahami dan meyakini fakta sejarah ini dalam era informasi? Untuk memahami dan meyakini peristiwa kebangkitan Yesus Kristus pada era informasi  adalah dengan merenungkan Firman Tuhan yang tertulis dalam Alkitab. Sebagaimana kaum perempuan itu menanggapi perkataan dari dua orang yang berpakaian yang berkilau-kilauan: “Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati? Ia tidak di sini, Ia telah bangkit. Ingatlah apa yang dikatakanNya kepada kamu, ketika Ia masih di Galilea, yaitu bahwa Anak manusia harus diserahkan ke tangan orang-orang berdosa dan disalibkan, dan akan bangkit pada hari yang ketiga. Maka teringatlah mereka akan perkataan Yesus itu (Ayat 5-8).


Padangsidimpuan, 08 April  2012
                                                                                                Pdt. Fortunate S Siagian, STh 



MENSYUKURI ANUGERAH TUHAN
(ROMA 12: 6-8; EPISTEL: MATIUS 25: 14-30)

Anugerah Tuhan pasti berbeda bagi setiap orang! Anugerah ini sering disebut dengan talenta! Namun talenta dan anugerah itu berbeda! Herman Musakabe, dalam bukunya yang berjudul: “Mengembangkan talenta Untuk Sesama” disebutkan bahwa talenta atau bakat adalah rahmat (biasa) dari Roh, sedangkan karunia (anugerah) rahmat istimewa dari Roh. Talenta diberikan sejak kelahiran secara alami, karunia diberikan sejak kelahiran baru ketika pembaptisan. Talenta merupakan anugerah yang bersifat alami, karunia merupakan anugerah rohani! Talenta lebih ditujukan untuk kesejahteraan manusia dan sesame (pengajaran, ilmu pengetahuan, kemasyarakatan, kepemimpinan, hiburan, inspirasi tingkat alami). Sedangkan anugerah/karunia lebih ditujukan untuk hal-hal yang bersifat rohani seperti pertumbuhan rohani, pelayanan rohani, perkembangan iman!

Karunia dan talenta yang berbeda-beda itu harus disyukuri oleh yang menerimanya, dan harus dapat dirasakan oleh sesama. Talenta dan karunia itu bukan untuk diri kita sendiri, tetapi juga diberikan untuk kesejahteraan sesama. Setiap anugerah yang diperoleh itu harus dapat dibagikan kepada orang lain! Harus diakui, banyak orang yang berbakat menjadi sombong, angkuh jatuh ke lembah kegelapan yang menjadikan hidupnya menjadi hancur, seperti dikalangan selebritis!

Firman Tuhan mengajak kita semua, agar mampu mesyukuri setiap talenta dan karunia yang diberikan Tuhan Kepada kita! Dengan apa kita mesyukuri? Ayat 6-8 : “karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita malakukannya dengan dengan iman kita. Jika karunia itu untuk melayani, baiklah kita melayani, jika karunia itu untuk mengajar, baiklah kita mengajar, jika karunia ituuntuk menasehati baiklah kita menasehati”. Artinya, karunia yang kita peroleh itu tidak boleh kita pendam, tetapi harus disalurkan atau dibagikan  kepada orang lain.

Nas ini lebih menekankan karunia dari pada talenta atau bakat! Namun keduanya ini tidak boleh dipisahkan satu sama lain. Keduanya kita bagikan untuk kepentingan pertumbuhan dan pendewasaan iman kepada Tuhan.

Orang yang berbakat dan yang memiliki karunia itu harus mampu mempersembahkan hidupnya untuk kemuliaan Tuhan. Talenta dan karunia yang dimilikinya harus dibagikan dengan jujur, iklas, rajin dan dipenuhi sukacita, bukan dengan sungut-sungut atau keterpaksaan atau melihat imbalan atau jasa. Maka dalam ayat 8b dikatakan: “Siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang iklas; siapa yang member pimpinan, hendaklah ia melakukannya degan rajin; siapa yang menunjukkan kemurahna, hendalaklah ia melakukannya dengan jujur”. Dengan demikian, segala sesuatu yang kita terima dari Tuhan, kita berikan untuk kemuliaan Tuhan dan kesejateraan umat manusia!

Bahan Diskusi:

1.         Apakah kamu sudah mengenal talenta dan karunia yang diberikan Tuhan kepadamu?
2.         Mengapa talenta dan karunia setiap orang itu berbeda-beda?
3.         Bagaimana kamu memahami perbedaan yang ada dalam kehidupan ini?


Padangsidimpuan, 25 Maret 2012
                                                                                                Pdt. Fortunate S Siagian, STh 

Sabtu, 31 Maret 2012


Mengikut Yesus Dalam Era Informasi
(Lukas 9:22-27)

Teknologi informasi selalu menyuguhkan hal-hal yang serba cepat (instan). Misalya di bidang pekerjaan, materi atau uang. Teknologi informasi menawarkan bisnis online”, yang di dalamya ada roh kemewahan! Demikian juga, dalam bidang peralatan atau teknologi. Teknologi informasi selalu menawarkan alat-alat yang membuat manusia tidak perlu mengeluarkan energinya untuk melakukan sesuatu pekerjaan. Dan alat-alat itu dapat diperoleh dengan mudah,yaitu dengan mencicil (kredit).

Satu sisi dapat dikatakan; apa yang ditawarkan oleh Teknologi Informasi berdampak positif dalam kehidupan manusia. Namun kadang kala manusia tidak menyadari dampak negatif dari kemajuan teknologi itu. Jika Manusia menganalisa sesuatu yang ditawarkan teknologi informasi itu mengandung  kosumerisme (Kemewahan), Materialisme. Artinya, segala sesuatu itu dapat diperoleh seseorang, jika ia mempunyai uang atau materi!

Lalu apa kaitannya dengan nats ini? Sekali lagi, tanpa disadari teknologi informasi dapat merusak spritualitas manusia! Dalam ayat 25 dikatakan: “apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?”. Sementara teknologi informasi menawarkan bagaimana seseorang itu dapat memiliki atau menguasai seluruh dunia? Jika seorang dapat menguasai seluruh dunia hidupnya tidak akan capek dan merasa enak.

Pertanyaan selanjutnya untuk memahami nas ini: Adakah jaminan  jika seseorang itu dapat memiliki seluruh dunia, ia telah berbahagia atau bersukacita? Tidak ! Sebab kebahaagiaan letaknya dalam diri (internal). Sama halnya dengan makanan: Apakah makanan enak itu sudah bergizi atau sehat? Makanan yang sehat tidak diukur dari “ rasa”. Namun makanan sehat itu ditentukan oleh “ kadar” yang terdapat dalam makanan itu.

Jika dibandingkan dengan orang tua. Orang tua  akan merasa bahagia dan bersukacita jika anaknya bisaa dibimbing menjadi orang yang berhasil. Demikian halnya dengan seorang guru. Ia akan merasa bahagia dan bersukacita jika ia dapat mendidik anak muridnya sampai lulus dengan nilai yangn baik dan memiliki karakter baik. Orang tua dan guru yang baik itu pasti mengeluarkan energy dalam mendidik anak dan muridnya. Dengan kata lain, orang tua dan guru tersebut akan mengeluarkan apa yang ada dalam dirinya untuk keberhasilan anak dan muridnya. Walaupun demikian, mereka akan merasakan kebahagiaan dan sukacita.

Dalam hal mengikut Yesus juga demikian: kita akan merasa bahagia dan bersukacita jika kita menyerahkan diri ke dalam ‘ syalom Allah” atau “ damai sejahtera Allah”. Untuk menciptakan damai sejahtera Allah itu. Sebagai  pengikut Yesus harus mampu hidup sederhana ( band. Filp. 2: 5-11) dengan cara sebagai  berikut:

1.      Menyangkal dirinya: Mengutamakan kesejahteraan banyak orang
2.      Memikul salib: menerima kenyataan hidup
3.      Mengikut Kristus : Setia pada Kristus.

Setiap pengikut Yesus yang melakukan pesanNya akan melihat dan menikmati Kerajaan Allah sebelum ia mati yaitu : kasih, keadilan, damai dan sukacita (band. Gal. 5:22-23).

Padangsidimpuan, 31 Maret 2012

Minggu, 11 Maret 2012


PERSEMBAHAN YANG BERKENAN DI HATI TUHAN
(Renungan: Lukas 21: 1-4; Epistel: 1 Korintus 1: 18-25)


Setiap persekutuan orang-orang Kristen selalu diadakan pengumpulan persembahan dalam ibadah-ibadahnya. Berbagai ibadah atau kebaktian di gereja kita (HKBP Immanuel) selalu diadakan pengumpulan persembahan, seperti Kebaktian Minggu, PA Sekolah Minggu, PA Remaja, PA Pemuda, PHD Kaum ibu dan lain-lain. Mungkin banyak dari jemaat (orang Kristen) yang kebingungan, karena tidak tahu apa arti dan makna persembahan itu! Sebab di dalam Kekristenan sekarang ini, termasuk dalam di gereja kita ada istilah. Misalnya Pelean IA, IB, II, Persembahan, Pelean bulanan/Tahunan (taon), ucapan syukur, perpuluhan, sumbangan, gugu toktok ripe dan masih banyak lagi istilah lain! Akibatnya, tidak jarang jemaat yang bersungut-sungut dalam hal memberi persembahan tersebut, dengan berkata: duit, duit, duit lagi!

Untuk siapa persembahan yang dikumpulkan umat itu? Untuk Tuhan atau Manusia? Apa Tuhan butuh sumbangan dari manusia? Mungkin ada yang berpransangka bahwa pertanyaan-pertanyaan ini “konyol” dan tidak perlu dijawab! Sebenarnya,  persembahan yang diberikan umat itu adalah untuk Tuhan! Umat meresponi doa persembahan itu, dengan menyanyikan BE HKBP 204: 2: Nasa na nilehonMi Tondi ro di pamatangku. Hosa dohot gogongki Ro di saluhut artangku. Hupasahat i tu Ho Na so unsatonku do. (Tuhan, karuniaMu, roh dan jiwaku semua. Nyawa juga hidupku, harta milikku semua. Kuserahkan padaMu, untuk selama-lamanya). Namun yang perlu diketahui, bahwa persembahan itu dipakai oleh gereja (umat) untuk pekerjaan dan pelayanan Kerajaan Tuhan di dunia ini. Artinya, persembahan itu dipergunakan untuk pemberitaan Injil atau mewartakan Kerajaan Allah dengan berbagai pelayanan yang dilakukan oleh gereja!

Nilai dan makna persembahan itu adalah bahwa:
1.   Tuhan adalah sumber hidup dan kehidupan: Persembahan itu buah dari iman
2.   Penyerahan Diri kepada Tuhan: Persembahan itu sebagai ucapan syukur akan berkat Tuhan
3.   Tanda ketaatan kepada Allah
4.   Tanda cinta kasih: Persembahan menunjukkan cinta kasih dan kerelaan berbagi untuk sesama

Dalam nats ini (Lukas 21: 1-4), Yesus memperbandingkan persembahan orang-orang kaya dengan persembahan seorang Janda Miskin. Yesus berkata: ”sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang itu”. Mengapa Yesus berkata demikian? Ada apa dengan persembahan janda miskin itu?  Yesus bukan melihat dari kuantitas (jumlah) yang diberikan oleh seseorang itu. Tetapi Yesus melihat Kualitas (mutu) dari seseorang itu! Dalam diri seorang janda miskin itu terdapat Pengakuan (iman) bahwa Allah sebagai sumber hidup dan kehidupan; terdapat penyerahan diri secara totalitas (sepenuhnya) kepada Allah; ada ketaatan kepada Allah, ada cinta kasih (pengorbanan).  Sementara Yesus melihat dalam diri orang-orang kaya tersebut tidak terdapat seperti yang ada dalam diri seorang janda miskin itu. Yesus melihata dalam diri orang-orang kaya tersebuat ada keangkuhan dan kesombongan.

Bahan Diskusi:
1.         Sebagai anak-anak remaja, Apa yang telah kamu persembahkan kepada Tuhan?
2.         Sebagai anak-anak remaja, apa yang kamu lakukan supaya persembahan yang kamu berikan itu berkenan kepada Tuhan?
3.         Bagaimana persembahan yang benar itu?

Padangsidimpuan, 11 Maret 2012

Pdt. Fortunate Sukses MM Siagian, STh

ANDA MAU KELUAR DARI KEKUATIRAN?
1 PETRUS 5: 7

Banyak orang yang terombang-ambing dalam perjalanan hidupnya atau lautan kekuatiran. Sebab kekuatiran itu merupakan indikasi utama kecemasan. Banyak factor  yang membuat manusia merasa kuatir dalam hidupnya; antara lain: masa depan yang tidak menentu, misalnya masalah pekerjaan; karena perubahan za,am yang begitu cepat.

Dr. Thomas Borkovec yang terkenal dengan sebutan Dr. Kuatir medefenisikan “kekuatiran merupakan serangkaian pikiran dan gambaran-gambaran yang menghasilkan perasaan-perasaan negative. Pikiran –pikiran tersebut tidak dapat terkonrol, dan berkaitan dengan suatu masalah tertentu yang tidak pasti. Biasanya, para penguatir yakin bahwa kemungkinan besar akan terjadi satu hal atau lebih bersifat negative”.

Ciri-ciri Kekuatiran:

1.   Kekuatiran berhubungan dengan masa  yang akan datang: Kekuatiran yang diakibat dari kesalahan atau perbuatan yang keliru di masa lalu.
2.   Kekuatiran merupakan suatu bentuk perhatian yang berlebihan terhadap diri sendiri: para penguatir merasa bahwa sesuatu masalah yang terjadi pada dirinya ada kaitan dengan orang lain, tetapi sebenarnya, itu terjadi karena pikiran-pikiran negative yang bersifat pribadi. Akibatnya para penguatir biasa merasa sendirian dan kesepian.
3.   Kegelisahan  yang terus menerus
4.   Hilangnya daya tahan atau tingkat toleransi p0enderita terhadap stress: Para penguatir tidak dapat menyesuaikan diri terhadap situasi yang menekan bathinnya.
5.   Para penguatir terombang-ambing oleh berbagai pikiran yang sangat mengerikan dan mereka tidak mampu menghentikan  pikiran yang kacau tersebut.

Kekuatiran dan kecemasan dalam tingkat tertentu dapat berguna dalam kehidupan setiap orang, misalnya ketika akan menghadapi ujian di sekolah. Dengan ada rasa kuatir tersebut, seseorang akan mempersiapkan dirinya dengan melakukan kesungguhan belajar dan latihan. Namun yang mau kita bahas dalam diskusi ini adalah kekuatiran yang dapat menggangu kepribadian seseoarang dan orang lain.

Sekarang, bagaimanakah keluar dari kekuatiran yang dapat melumpuhkan seseorang? Firman Tuhan berkata: “serahkanlah segala klekuatiranmu kepadaNya, sebab Ia yang memelihara kamu” (1 Petrus 5: 7). Dari nats ini, seseorang dapat keluar dari kekuatirannya dengan cara:

1.     Mengeluarkan “beban” atau “pikiran-pikiran” yang mengganggu dalam hidupnya. Hal itu dapat dilakukan dengan berdoa kepada Tuhan atau sharing kepada Tuhan.
2.     Berpikir positif atau positive thinking: memikirkan hal-hal yang indah dan benar.
3.     Pengharapan: Hidup dan dunia ini bukanlah milik kita, namun milik Allah. Seseorang yang menyadari hidup dan dunia ini bukan miliknya, ia akan hidup dalam kepasrahan kepada Tuhan. Kepasrahan tersebut menimbulkan ketekunan dan pengharapan akan pemeliharaan Tuhan.

Kolose 3:5-17
TUHAN MENGUBAHKU MENJADI MANUSIA BARU

Sesungguhnya, hati nurani manusia itu tidak pernah menginginkan hal-hak yang jahat. Sebaliknya, hati nurani manusia itu selalu menginginkan kebaikan dalam dirinya dan kepada sesamanya. Maka sangat mendengar, bahwa “bayi itu digambarkan dengan seputih Kertas atau seputih salju”! Sehingga bayi itu disebut “orang yang tidak berdosa”. Paham ini dimunculkan oleh para ahli Psikologi dan aliran Kristen yang fundamental. Mereka memahami bayi itu belum bisa membedakan hal yang baik dan yang jahat. 

Dalam pemahaman Kristen Protestan bahwa setiap orang telah diliputi oleh dosa tanpa membedakan usia seseorang (Baca dan pahami: Kejadian 3, yang sering disebut dengan dosa warisan). Akibat dari dosa itu adalah “ketakutan, rasa malu, kesusahan atau kematian”! KETIKA MANUSIA MENGHINDAR DARI AKIBAT DOSA INI! KETIKA ITU JUGA MANUSIA JATUH DALAM KESESATAN! Contohnya; ketika seseorang menghindar dari kesulitan yang dialaminya, seperti kesulitan ekonomi, maka ia akan melakukan hal-hal yang jahat seperti mencuri (korupsi), merampok, membunuh, melacurkan diri, bunuh diri, dan lain sebagainya. Ada juga orang yang menginginkan Wibawabnya tidak runtuh, mempertahankan kuasa atau jabatannya tersesat dengan dosa atau kecemaran. Sebagaimana yang dikatakan oleh  Charles Darwin dalam Teori evolusinya, “siapa yang bertahan itulah yang kuat” (survive of fittes). 

Sebagai orang Kristen yang setia mengikut Yesus Kristus hendaknya kita memahami dan mengimani bahwa Ketakutan (kekuatiran), rasa malu, kesusahan (kematian) telah Tuhan kalahkan dengan kematian dan kebangkitan Kristus!

Dengan mengimani Penyelamatan yang dilakukan oleh Yesus Kristus akan dunia ini maka kita akan mampu “mematikan”:
·            Segala sesuatu yang duniawi dalam diri, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat, keserakahan, dan segala bentuk penyembahan berhala (Ayat 5)
·            Semua yang mendatangkan Murka Tuhan (Ayat 6)
·            “membuang” dari dalam diri amarah, geram, kejahatan, fitnah, kata-kata kotor dan dusta atau kebohongan (Ayat 8-9)
Setiap orang yang setia mengikut dan Mengimani Yesus Kristus akan dimampukan untuk:
·            Memperbaharui diri senantiasa atau terus menerus menuju kesempurnaan dengan pengetahuan akan kebenaran Ilahi/menurut gambar Khaliknya (Ayat 10)
·            Menghilangkan pengkotak-kotakan/ Diskriminasi (Ayat 11)
·            Mengenakan belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran
Pokok Diskusi:
·            Kaum Remaja disebut masa “transisi” atau “peralihan”. Dalam masa peralihan ini kaum remaja sangat gampang diombang-ambingkan oleh roh-roh dunia ini! Agar kaum remaja dalam masa peralihannya tetap mampu menjaga kesucian atau kekudusannya sebagai pengikut Yesus Kristus; apa yang harus dilakukannya dalam kehidupannya setiap hari?
·            Hal-hal apa yang dilakukan oleh remaja untuk memperbaharui hidupnya!
Padangsidimpuan, 04 Maret 2012
Pdt. Fortunate SMM Siagian, STh

Rabu, 07 September 2011

ANDA MAU KELUAR DARI KEKUATIRAN?


ANDA MAU KELUAR DARI KEKUATIRAN?
1 PETRUS 5: 7

Banyak orang yang terombang-ambing dalam perjalanan hidupnya atau lautan kekuatiran. Sebab kekuatiran itu merupakan indikasi utama kecemasan. Banyak factor  yang membuat manusia merasa kuatir dalam hidupnya; antara lain: masa depan yang tidak menentu, misalnya masalah pekerjaan; karena perubahan zaman yang begitu cepat.

Dr. Thomas Borkovec yang terkenal dengan sebutan Dr. Kuatir medefenisikan “kekuatiran merupakan serangkaian pikiran dan gambaran-gambaran yang menghasilkan perasaan-perasaan negative. Pikiran –pikiran tersebut tidak dapat terkonrol, dan berkaitan dengan suatu masalah tertentu yang tidak pasti. Biasanya, para penguatir yakin bahwa kemungkinan besar akan terjadi satu hal atau lebih bersifat negative”.

Ciri-ciri Kekuatiran:

1.   Kekuatiran berhubungan dengan masa  yang akan datang: Kekuatiran yang diakibat dari kesalahan atau perbuatan yang keliru di masa lalu.
2.   Kekuatiran merupakan suatu bentuk perhatian yang berlebihan terhadap diri sendiri: para penguatir merasa bahwa sesuatu masalah yang terjadi pada dirinya ada kaitan dengan orang lain, tetapi sebenarnya, itu terjadi karena pikiran-pikiran negative yang bersifat pribadi. Akibatnya para penguatir biasa merasa sendirian dan kesepian.
3.   Kegelisahan  yang terus menerus
4.   Hilangnya daya tahan atau tingkat toleransi p0enderita terhadap stress: Para penguatir tidak dapat menyesuaikan diri terhadap situasi yang menekan bathinnya.
5.   Para penguatir terombang-ambing oleh berbagai pikiran yang sangat mengerikan dan mereka tidak mampu menghentikan  pikiran yang kacau tersebut.

Kekuatiran dan kecemasan dalam tingkat tertentu dapat berguna dalam kehidupan setiap orang, misalnya ketika akan menghadapi ujian di sekolah. Dengan ada rasa kuatir tersebut, seseorang akan mempersiapkan dirinya dengan melakukan kesungguhan belajar dan latihan. Namun yang mau kita bahas dalam diskusi ini adalah kekuatiran yang dapat menggangu kepribadian seseoarang dan orang lain.

Sekarang, bagaimanakah keluar dari kekuatiran yang dapat melumpuhkan seseorang? Firman Tuhan berkata: “serahkanlah segala klekuatiranmu kepadaNya, sebab Ia yang memelihara kamu” (1 Petrus 5: 7). Dari nats ini, seseorang dapat keluar dari kekuatirannya dengan cara:

1.     Mengeluarkan “beban” atau “pikiran-pikiran” yang mengganggu dalam hidupnya. Hal itu dapat dilakukan dengan berdoa kepada Tuhan atau sharing kepada Tuhan.
2.     Berpikir positif atau positive thinking: memikirkan hal-hal yang indah dan benar.
3.     Pengharapan: Hidup dan dunia ini bukanlah milik kita, namun milik Allah. Seseorang yang menyadari hidup dan dunia ini bukan miliknya, ia akan hidup dalam kepasrahan kepada Tuhan. Kepasrahan tersebut menimbulkan ketekunan dan pengharapan akan pemeliharaan Tuhan.

Minggu, 14 Agustus 2011

MENGUBAH HATI


MENGUBAH HATI
2 Korintus 5:17

Apabila kita ingin berkembang dalam potensi kemanusiaan sepenuhnya bersama Kristus, kita harus menyangkal diri untuk menghindari perilaku dan pikiran egois yang menjebak kita. Ini berarti kita harus bersedia mengubah hati.

Berikut adalah contoh-contoh perilaku dan pikiran yang bersumber pada sifat egois:
1.  Kemarahan: Jika kemarahan itu muncul karena harapan yang tidak terpenuhi untuk berpuas diri.
2.  Tidak ada tanggung jawab seksual: Seks di luar konteks pernikahan. Hanya untuk pemuasan diri.
3.   Kerakusan : Dalam hal makanan dan obat-obat terlarang maupun minuman keras.
4  Iri hati:Dengan menginginkan milik orang lain kita melekaat tembok pemisah dengan orang lain.
5. Keserakahan: Memperoleh atau mencapai sesuatu dengan cara apapun dan menolak berbagi dengan orang lain.
6.     Ambisius: Memperbaiki diri dengan mengorbankan  orang lain
7.   Kemalasan: Memendam bakat tanpa guna; mengingkari kekuatan dasariah yang menjadi bekal kita untuk menjalani hidup.
8. Merasa paling benar: Menilai pendapat sendiri terlalu tinggi dan meremehka pendapat orang lain. Akan menutupo kemungkinan untuk mengubah perilaku yang salah.
9. Merasa paling susah: terlalu kasihan terhadap diri sendiri yang membuat kita tidak produktif.

Sifat-sifat itu memperbodoh diri sendiri dan membuat jengkel orang lain. Jika kita tidak mengubah sifat-sifat itu maka niscaya kita tidak  pernah mencapai kedamaian diri dan berdamai dengan orang lain.

Sifat egois mencapai kenikmatan jangka pendek tapi berbuah penderitaan jangka panjang. Yesus menginginkan kita mengalami perkembangan rohani dari keegoisan kepada  kematangan rohani yang sesungguhnya dengan mengubah hati.
Syalom!

BELAJAR MENJADI BIJAKSANA


BELAJAR
MENJADI
BIJAKSANA

Amsal 1: 7
Bijaksana. Siapa yang tidak tahu perkataan itu? Semua orang ingin bersikap bijak dan ingin diperlakukan secara bijak. Tetapi semua orangpun tahu sikap bijak itu tidak gampang. Praktis, bijaksana berarti arif, bisa membuat pertimbangan yang baik, bisa membuat pilihan atau keputusan yang tepat, tahu diri, tenggang rasa, cermat, hemat, bisa mengendalikan diri, tahu berterimakasih, bisa menghargai orang lain, waspada, dsb.

Bijaksana berarti mengetahui apa yang baik dan melakukannya.
Coba baca MARKUS 12: 34!
Semua orang perlu belajar menjadi bijak.
Makin bertambah umur makin perlu bertambah bijak
Makin besar tanggungjawab, makin besar pula kebutuhan untuk bertambah bijak.
Seorang pelajar perlu bijak mengatur waktu, apalagi seorang guru.

Sifat bijak terasa lebih perlu lagi kalau kita menghadapi situasi yang sulit. Begini salah, begitu salah. Jadi bingung! Apa yang harus kuperbuat? Apa yang harus kupilih? Kita perlu bijak!
Karena sering kita kurang bijak dalam perkataan, pikiran dan perbuatan: Kurang pertimbangan, kurang perhitungan, kurang hati-hati, salah pilih, dsb.

APAKAH KITA BISA MENJADI BIJAK ?
Tentu saja!
Coba baca YAKOBUS 1:5

BAGAIMANA SYARATNYA MEMINTA SIFAT BIJAK?
Coba baca lagi AMSAL 1: 7
Pengetahuan bukan berarti sekedar ilmu tetapi mengetahui yang baik. Ibraninya hokmah maka muncul kata hikmah atau hikmat yaitu bijak. Takut akan Tuhan berarti HORMAT atau TAAT.
Hormat akan Tuhan itulah syarat memperoleh sifat bijak.

BAGAIMANA CARANYA MENGHORMATI TUHAN ?
Apakah berdoa sudah menyatakan berdiam diri di hadapan Tuhan dan hormat akan Tuhan? Belum tentu!
Sebab sering kali waktu kita berdoa namun pikiran kita penuh dengan ini dan itu, mulut kita sibuk mengeluarkan banyak perkataan bagaikan rentetan peluru senapan mesin, di manakah hormat kita kepada Tuhan disaat itu?

MENGHORMATI TUHAN BERARTI MENGINDAHKAN PETUNJUKNYA.
Karena itu perlu berdian diri mendengar petunjuk Tuhan. Mana mungkin kita bersikap bijak kalau kita gugup, emosi, terburu nafsu, serakah, marah atau mata gelap. Untuk itu langkah pertama adalah berdiam diri dan meneduhkan diri; supaya Tuhan berbicara dan dengarlah melalui suara hatimu; sesuatu yang menuntun kita mengambil keputusan yang bijak.
Syalomm………….GOD BLESS US.

RESEP YESUS MEMBANGUN HARGA DIRI

Resep Yesus untuk Membangun Harga Diri
                                              Lukas 6: 38  “ Berilah dan kamu akan diberi……”

Lakukan sesuatu yang membuat anda lebih menyukai diri anda.
Berikanlah kasih, simpati, pertolongan, pengertian, maaf atau apapun yang tampaknya perlu. Kadang ada sahabat yang butuh surat sederhana atau sms sederhana yang dapat membangunnya, kadang ada teman yang  butuh didengarkan tanpa perlu memberikan nasihat. Ada sahabat yanhg butuh ditemani tanpa harus berkata-kata. Ada sahabat yang ingin disapa dengan ketulusan serta banyak bentuk perhatian yang dapat kita berikan kepada orang yang membutuhkannya.

Yesus juga berkata “ Berilah kepada yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam daripadamu” (Mat 5: 42). Pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan ( Luk.6:35).  Artinya perbuatan kita bukanlaah merupakan kebaajikan jika kita maasih mengnharapkan balasannya = sebenarnya jika demikian kita tidak berbuat apa-apa! Tetapi perbuatan itu menjadi kebajikan jika merupakan tindakan kasih dan perhatian tanpa pamrih.

Lalu apakah kita harus membiarkan diri kita dirugikan si peminjam atau penipu atau manipulator??? TIDAK !

Pergunakan pikiran yang diberikan Allah kepada siapaa saudara meminjamkan uang atau barang. Hal ini tidak boleh dilakukan untuk membeli kasih dan persahabatan mereka, juga tidak untuk membeli kebaikan.  Ada orang yang harus dididik belajar hidup dari penghasilannya. Artinya kita harus memahami apa sebenarnya yang mereka butuhkan dari kita: Apakah akar penyebab sesuatu keadaan atau kondisi seseorang sehingga kita dapat memberikan yanag dia butuhkan sebenarnya.

Pergunakanlah segala potensi yang anda miliki untuk menunjukkan bahwa anda mampu mengasihi orang lain seperti mengasihi diri sendiri. Pencipta kita adalah Allah yang sempurna. Dia menciptakan kita sempurna sebagaimana kita ada saat ini.. Buang jauh-jauh darai diri kita bahwa kita tidak dapat berbuat apa-apa. Setiap orang percaya diperlengkapi Allah untuk melakukan berbagai-bagaai kebaikan. Gandakan talenta yang Tuhan berikan dan tetaplah gali potensi dirimu sebab kamau berharga di mata Tuhan. Jangan cenderung menyalahkaan diri, menghakimi diri, memendam potensi diri. Tapi percayalaah bersama YESUS … Kamu bisa!